
JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan tiga forum nasional sepanjang November 2026 untuk memperkuat hubungan antara riset, pendidikan tinggi, industri, dan tata kelola publikasi ilmiah. Tiga agenda tersebut adalah Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI), Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI), serta Konvensi Nasional Tata Kelola dan Integritas Jurnal Ilmiah (KJTI).
Rangkaian kegiatan ini diarahkan agar pengetahuan yang dihasilkan kampus tidak berhenti sebagai laporan penelitian atau publikasi akademik. Pemerintah ingin mendorong hasil riset menjadi solusi yang dapat diuji, digunakan, dan dikembangkan bersama masyarakat maupun dunia usaha. Agenda tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi tantangan yang masih dihadapi ekosistem ilmu pengetahuan di Indonesia.
KSTI dorong hasil riset masuk ke industri
KSTI 2026 dijadwalkan berlangsung pada 10–13 November di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Forum ini mengangkat tema strategi kemandirian ekonomi dan kesejahteraan Indonesia. Kegiatan tersebut akan mempertemukan peneliti, perguruan tinggi, pelaku industri, pemerintah, dan calon pengguna teknologi agar inovasi yang dikembangkan dapat menemukan jalur penerapan yang lebih jelas.
Penyelenggara menyiapkan pameran sekitar 500 produk riset yang dipilih dari kurang lebih 850 usulan. Kehadiran inventor diharapkan memberi kesempatan kepada pengunjung untuk berdiskusi langsung mengenai persoalan yang ingin diselesaikan, cara kerja teknologi, kebutuhan pengujian, hingga peluang pengembangan produk.
Selain pameran, agenda KSTI mencakup tantangan robotika, hackathon, diskusi panel, business matching, dan kunjungan inovasi. Topik yang dibahas meliputi kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, kesehatan, hilirisasi industri, teknologi mutakhir, ilmu sosial dan humaniora, serta ketahanan menghadapi bencana. Hasil forum juga diharapkan menjadi masukan bagi penyusunan arah kebijakan riset.
KPPTI perkuat kolaborasi dan transformasi kampus
Agenda kedua, KPPTI 2026, akan diselenggarakan pada 11–13 November di Universitas Airlangga, Surabaya. Forum ini mengusung tema transformasi pendidikan tinggi menuju keberdampakan melalui pemanfaatan teknologi dan kearifan lokal yang inklusif serta humanis.
KPPTI dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik ant perguruan tinggi negeri, swasta, dan perguruan tinggi di bawah kementerian atau lembaga. Pertukaran pengalaman diharapkan membantu kampus memperkuat kapasitas kelembagaan, kepemimpinan, mutu pembelajaran, dan relevansi program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
Pembahasan forum mencakup pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, teknologi digital dan kecerdasan artifisial, kearifan lokal serta ekonomi kerakyatan, hingga inklusivitas. Sejumlah inisiatif juga direncanakan untuk mendukung transformasi digital perguruan tinggi, memberi panduan penggunaan kecerdasan artifisial secara etis, dan memperkuat kolaborasi rumah sakit pendidikan.
Kualitas jurnal ilmiah menjadi perhatian
Forum ketiga, KJTI 2026, dijadwalkan berlangsung pada 9 November di Universitas Ciputra. Agenda ini secara khusus membahas tata kelola dan integritas publikasi ilmiah. Penguatan kualitas jurnal dinilai penting agar hasil penelitian Indonesia memiliki kredibilitas, dapat ditelusuri, dan memperoleh pengakuan lebih luas.
Indonesia memiliki puluhan ribu jurnal ilmiah, tetapi jumlah tersebut perlu diikuti peningkatan mutu pengelolaan, proses penelaahan, etika penulisan, dan konsistensi penerbitan. Pengelola jurnal, penerbit, perpustakaan perguruan tinggi, asosiasi keilmuan, peneliti, serta lembaga penelitian akan dilibatkan dalam pembahasan.
Integritas publikasi bukan hanya persoalan administrasi. Praktik plagiarisme, manipulasi data, konflik kepentingan yang tidak diungkapkan, dan proses penelaahan yang tidak independen dapat merusak kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan. Karena itu, peningkatan kapasitas pengelola jurnal perlu berjalan bersama penerapan standar etik yang konsisten.
Tantangan berikutnya adalah pelaksanaan
Ketiga forum tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ekosistem ilmu pengetahuan membutuhkan kerja lintas sektor. Riset memerlukan dukungan pendanaan dan fasilitas, kampus membutuhkan tata kelola yang adaptif, sedangkan industri dan masyarakat perlu dilibatkan sejak awal agar inovasi menjawab kebutuhan nyata.
Ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari jumlah peserta, produk yang dipamerkan, atau rekomendasi yang dihasilkan. Setelah forum berakhir, perlu ada tindak lanjut yang terukur: siapa yang mengembangkan teknologi, bagaimana hasil riset diuji, apakah kampus dapat mengadopsi praktik baik, dan bagaimana kualitas jurnal dipantau.
Perguruan tinggi juga perlu memastikan transformasi digital tidak memperlebar kesenjangan antara kampus besar dan kampus dengan sumber daya terbatas. Pendampingan, akses infrastruktur, pelatihan dosen, dan kolaborasi antarkampus menjadi bagian penting agar perubahan dapat dirasakan secara merata.
Melalui KSTI, KPPTI, dan KJTI, pemerintah memiliki momentum untuk menyatukan agenda riset, pendidikan, dan publikasi ilmiah. Tantangan utamanya kini adalah mengubah pertemuan nasional menjadi kemitraan berkelanjutan serta memastikan hasilnya memberi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
